Kamis, 13 Juli 2023

Pendidikan Pancasila Kelas VII

 BAB I
SEJARAH KELAHIRAN PANCASILA

 

A.  Filosofi Garuda Pancasila


Kalian tentu tahu burung Garuda. Burung yang gambarnya dijadikan lambang negara Indonesia, dengan simbol Pancasila di dadanya. Tapi pernahkah kalian melihat burung Garuda yang hidup? Garuda adalah nama burung yang ada dalam cerita wayang. Burung itu merupakan anak dewa yang menjadi tunggangan raja dalam melawan kejahatan. Di alam nyata, burung Garuda dalam cerita tersebut adalah burung rajawali atau burung elang besar. Jenis burung terbesar yang dapat terbang di angkasa. Burung rajawali atau elang bukan hanya kuat namun juga gagah. Dengan membentangkan sayapnya, elang dapat melayang tinggi di angkasa serta menjelajahi daerah yang luas. Tidak ada burung yang tampak segagah rajawali saat terbang. Maka rajawali atau elang memang layak dijadikan lambang negara Indonesia. Salah satu jenis elang terbesar di Indonesia adalah rajawali Papua. Nama latinnya adalah Harpyopsis novaeguineae. Rajawali ini termasuk dalam kelompok elang harpi. Tinggi burung ini mencapai 90 cm, sedangkan bentangan sayapnya mencapai sekitar 1,5 meter. Gagah bukan burung rajawali ini? Banyak jenis elang di Indonesia. Yang juga terkenal adalah elang jawa yang memiliki nama latin Nisaetus bartelsi. Memiliki bentangan sayap selebar 120 cm, burung ini termasuk jenis elang berukuran sedang. Yang istimewa dari jenis elang jenis ini adalah jambul atau bulu mahkota di kepala yang membuatnya gagah. Bulu mahkota elang inilah yang dijadikan model bulu mahkota gambar Garuda Pancasila.

 

B.  Latar Sejarah Kelahiran Pancasila

a.    Masa Sejarah Awal

Beberapa peninggalan purba menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila sudah ada sejak dahulu. Di masa pra aksara sebelum abad ke-3 Masehi, nilai ketuhanan saat itu antara lain terlihat pada sarana upacara keagamaan, seperti nekara atau gong perunggu yang ditemukan di banyak tempat, mulai dari Sumatra hingga Alor, Nusa Tenggara Timur. Nilai kemanusiaan dan persatuan juga berkembang yang terlihat pada jejak-jejak peradaban lama. Jejak peradaban di zaman pra aksara itu, antara lain adalah lukisan di dinding gua. Banyak tempat di Indonesia terdapat lukisan gua, seperti di Wamena Papua, di Leang-leang Sulawesi Selatan, hingga di pedalaman Kalimantan. Jejak peradaban lama yang mencerminkan nilai kemanusiaan juga terwujud dengan adanya patung-patung purba seperti di Lembah Bada, Sulawesi Tengah maupun di Gunung Dempo Sumatra Selatan. Nilai kemanusiaan berupa kreativitas dan kesadaran berpikir makin berkembang setelah ada prasasti batu bertulis. Di sekitar abad ke-5, berdiri kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat, kerajaan Kutai di Kalimantan Timur disusul kerajaan Kalinga di Jawa Tengah. Prasasti batu bertulis dari zaman itu menunjukkan ketenteraman yang menjadi penanda nilai persatuan, hingga kerakyatan dan keadilan sosial. Masyarakat dalam keadaan damai dan makmur.

b.    Masa Kerajaan Nusantara

1)   Kerajaan Kutai

Berdasarkan catatan Ida Sugiarti dkk. dalam Modul Pendidikan Pancasila (2020, hlm. 28), Kutai Mulawarman dahulu kala hidup dengan mencerminkan nilai sosial, politik, serta ketuhanan. Ketiga aspek ini dicerminkan melalui pengadaan “Kenduri”, yaitu memberi sedekah pada para Brahmana. Raja yang melaksanakan upacara ini adalah Raja Mulawarman. Sebagai bentuk balas kasih kepada Mulawarman, para Brahmana akhirnya memberikan persembahan kepada raja tersebut yang berwujud “Prasasti Yupa”. Selengkapnya, berikut ini tiga nilai Pancasila yang dicerminkan oleh Kerajaan Kutai:

Ketuhanan: Beragama Hindu

Kerakyatan: Rakyat Kutai makmur

Persatuan: Punya wilayah seluas Kalimantan Timur di bawah pemerintahannya

2)   Kerajaan Sriwijaya


Kemakmuran bangsa Indonesia makin meningkat di akhir abad ke-7. Di Sumatra muncul kerajaan besar Sriwijaya, disusul oleh Wangsa Sanjaya dan Syailendra di Jawa. Kerajaan kembar itu membangun Candi Borobudur sebagai candi umat Buddha terbesar di dunia, serta Candi Prambanan sebagai candi umat Hindu. Candi-candi itu menunjukkan adanya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, hingga keadilan sosial yang kuat. Pada masa kejayaannya, Sriwijaya pernah memiliki wilayah meliputi Sumatera, sebagian Pulau Jawa, Semenanjung Malaka, dan beberapa daerah lain di sekitarnya. Kendati wilayah kerajaannya luas, namun Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan yang teratur. Dalam kehidupan ekonomi misalnya, Sriwijaya berupaya menyatukan pengrajin, pedagang, dan pegawai raja. Dengan adanya pegawai raja dan persatuan akses dagangan ini, masyarakat jadi memiliki efektivitas ketika ingin melakukan transaksi. Selain nilai persatuan di atas, berikut ini nilai Pancasila lengkap yang tercermin pada masa Kerajaan Sriwijaya:

Ketuhanan: Menjadi pusat pengajaran agama Buddha di kawasan Asia Tenggara. Kemanusiaan: Mempunyai sikap terbuka kepada pendatang tanpa pandang bulu. Persatuan: Menyatukan pedagang, pengrajin, dan pengawas (pegawai raja).

Kerakyatan: Kehidupan masyarakat sejahtera.

Keadilan: Bercampur baur tanpa memandang latar belakang seseorang.

3)   Kerajaan Majapahit

Selain Kutai dan Sriwijaya, Majapahit juga menjadi salah satu kerajaan yang mencerminkan Pancasila pada zamannya. Kerajaan ini pernah memiliki wilayah kuasa mencakup sebagian besar pantai Nusantara, Vietnam Selatan, hingga Barat Papua. Ketika Majapahit menjalankan kehidupan kerajaannya, orang-orang hidup rukun meski agama mereka berbeda, yakni Hindu dan Buddha. Dengan begitu, unsur persatuan dalam Pancasila terlihat ketika melihat kasus tersebut. Berikut ini nilai-nilai Pancasila lengkap yang dicerminkan oleh Kerajaan Majapahit:

Ketuhanan: Hindu-Buddha hidup bersama dan rukun.

Kemanusiaan: Hayam Wuruk memiliki relasi baik dengan Kerajaan Tiongkok, Kamboja, dan Champa.

Persatuan: Kebersamaan terwujud ketika dua agama berbeda bersatu dalam satu pemerintahan dan dapat hidup damai.

Kerakyatan: Adanya profesi khusus di kerajaan yang memberikan arahan musyawarah

c.    Masa Penjajahan

Makmurnya negeri ini mengundang orang asing datang dari Tiongkok, India, Arab, lalu Eropa. Mula-mula mereka semua berdagang. Namun bangsa-bangsa Eropa kemudian mulai menjajah Nusantara. Hal itu dilakukan oleh bangsa Portugis, Spanyol, Inggris, dan akhirnya Belanda yang menjajah selama sekitar 350 tahun. Di Sumatra terjadi perlawanan oleh Sultan Iskandar Muda, Sultan Badaruddin, Si Singamaraja, Imam Bonjol dalam Perang Paderi (1803-1837) dan Cut Nya’ Dhien dalam Perang Aceh (1873-1904). Di Jawa terjadi Perang Diponegoro (1825-1830). Pattimura di Maluku, Jelantik di Bali, juga Pangeran Antasari di Kalimantan juga mengangkat senjata. Sedangkan perang laut besar-besaran dilakukan Sultan Babullah di perairan Maluku dan Papua, Hang Tuah di Selat Malaka, juga Sultan Hasanuddin di Laut Sulawesi dan Laut Jawa. Dengan nilai ketuhanan yang kuat, para pahlawan pun berjuang untuk menegakkan nilai kemanusiaan dan nilai persatuan.

Ketuhanan: Para pahlawan selalu berdoa kepada Tuhan untuk menumpas penjajahan.

Persatuan: Saling membantu satu sama lain dan Gotong royong untuk melawan penjajah.

Kemanusiaan: "Saling menghaergai sesama" yaitu saat melawan penjajah mereka tidak boleh membeda beda kan saat bertarung karna dpt menyebabkan perpecahan.

Kerakyatan: Pada saat ingin menyerang sekutu bangsa Indonesia tidak mungkin menyerang begitu saja. Mereka memakai cara berunding untuk mengatur strategis penyerangan dan Komandan untuk mengatur jalan strategis penyerangan.

Keadilan: Keadilan pada masa penjajahan tidak bisa didapat dengan mudah. Melalui garis penyerangan siapa yang menang dia yang mendapat keadilan.

d.   Masa Kebangkitan Nasional

Memasuki abad ke-20, upaya melawan penjajah tidak lagi dengan perang melainkan lewat gerakan politik. Budi Utomo yang diprakarsai Wahidin Sudirohusodo berdiri pada tanggal 20 Mei 1908. Disusul oleh Sarekat Islam pimpinan Cokroaminoto, lalu Muhammadiyah pimpinan K.H. Ahmad Dahlan dan Nahdlatul Ulama pimpinan K.H. Hasyim Asy’ari. Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara muda yang mendirikan Indische Partij diasingkan ke Belanda. Pulang ke Tanah Air, Dewantara mendirikan Taman Siswa. Abdul Muis, Marah Rusli dan para penulis Balai Pustaka berjuang melalui karya sastra, menyadarkan masyarakat agar terus berjuang untuk merdeka. Puncaknya adalah adanya Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, saat para pemuda bersumpah untuk “bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa yang satu, yakni Indonesia.” Setelah Sumpah Pemuda, nama Indonesia makin sering dipakai. Soekarno pun mendirikan partai bernama Partai Nasional Indonesia, kemudian diasingkan ke Ende.

 

Sumber:

Buku Teks Pendidikan Pancasila Kelas VII SMP

https://tirto.id/nilai-nilai-pancasila-di-zaman-kerajaan-bagi-bangsa-indonesia-guVT

https://www.facebook.com/lamrimnesia/posts/nilai-pancasila-indonesia-sudah-ada-sejak-zaman-dahulu-ketika-pembangunan-candi-/3040652269496323/

http://www.sdnkedungwungu01.sch.id/2022/06/lambang-negara-republik-indonesia.html

https://brainly.co.id/tugas/25108432

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar